Jadwal yang tidak mungkin dikerjakan
Jadwal proyek biasanya disusun dari durasi: pekerjaan A sepuluh hari, pekerjaan B tujuh hari, dan seterusnya. Yang sering tidak diperiksa adalah berapa orang yang dibutuhkan agar durasi itu tercapai — dan apakah jumlah itu masuk akal.
Hasilnya jadwal yang di atas kertas rapi tetapi menuntut 84 tukang batu pada minggu kesembilan, sementara di minggu keenam belas hanya butuh sembilan. Tidak ada kontraktor yang bisa menambah dan memulangkan puluhan tukang seperti itu, jadi yang terjadi di lapangan adalah keterlambatan — yang lalu disalahkan pada pelaksanaan, padahal sumbernya perencanaan.
Analisa kebutuhan sumber daya menutup celah itu: ia menerjemahkan jadwal menjadi jumlah orang, jumlah material, dan jam alat per periode — lalu memaksa pertanyaan apakah angka itu bisa dipenuhi.
Dari koefisien AHSP ke jumlah orang
Setiap analisa harga satuan memuat koefisien tenaga dalam satuan OH (orang-hari) per satuan pekerjaan. Koefisien 0,275 OH tukang batu per m² berarti satu m² pekerjaan itu memerlukan 0,275 hari kerja seorang tukang batu.
Total OH = Koefisien × Volume pekerjaan
Jumlah orang = Total OH ÷ Durasi rencana (hari)
Contoh: pasangan dinding 640 m², koefisien tukang batu 0,275 OH/m², direncanakan selesai 20 hari.
Total OH = 0,275 × 640 = 176 OH. Jumlah tukang = 176 ÷ 20 = 8,8 ≈ 9 orang. Ditambah pekerja pembantu sesuai koefisiennya sendiri.
Perhitungan ini juga bisa dibalik, dan justru di situ gunanya paling besar: kalau Anda hanya punya 6 tukang batu, durasi minimumnya adalah 176 ÷ 6 ≈ 30 hari — bukan 20. Lebih baik mengetahuinya saat menyusun jadwal daripada di minggu kedelapan.
Meratakan beban tenaga kerja
Setelah kebutuhan per periode dijumlahkan untuk seluruh pekerjaan, hampir selalu muncul grafik bergerigi: puncak tajam di beberapa minggu, lembah di minggu lain. Puncak itu mahal — merekrut dan memulangkan tenaga dalam waktu singkat menaikkan biaya, menurunkan mutu, dan membebani pengawasan.
Tiga cara meratakannya, berurutan dari yang paling murah:
Geser pekerjaan yang punya float. Pekerjaan di luar lintasan kritis bisa dimundurkan tanpa mengubah tanggal selesai. Ini cara paling aman karena tidak berdampak apa pun pada durasi total.
Perpanjang durasi pekerjaan yang longgar. Mengerjakan sesuatu dengan 5 orang selama 12 hari sering lebih murah daripada 10 orang selama 6 hari, kalau tenggatnya memang memungkinkan.
Ubah urutan atau metode. Membagi pekerjaan per zona agar regu yang sama berpindah berurutan, bukan mengerjakan semua zona bersamaan.
Yang perlu dijaga: perataan tidak boleh menyentuh lintasan kritis tanpa disadari. Menggeser pekerjaan kritis sedikit saja langsung memundurkan tanggal selesai proyek.
Alat: sewa atau beli
Koefisien alat dalam AHSP umumnya dalam jam-alat atau hari-alat per satuan pekerjaan, dihitung dengan cara yang sama seperti tenaga kerja. Yang berbeda adalah keputusan setelahnya.
Perbandingan kasarnya:
Titik impas (hari) = Harga beli ÷ (Tarif sewa harian − Biaya operasi harian)
Kalau pemakaian yang direncanakan jauh di bawah titik impas, menyewa lebih masuk akal. Tetapi angka ini baru separuh cerita — kepemilikan membawa biaya yang tidak muncul dalam rumus: penyusutan, perawatan berkala, operator tetap, penyimpanan saat menganggur, dan modal yang terikat.
Pertimbangan yang sering lebih menentukan daripada biaya: ketersediaan. Alat sewa pada musim ramai bisa tidak tersedia justru saat dibutuhkan, dan satu minggu menunggu excavator lebih mahal daripada selisih sewa setahun.
Empat kesalahan yang paling sering
Memakai koefisien AHSP apa adanya untuk semua kondisi. Koefisien adalah nilai rata-rata pada kondisi normal. Pekerjaan di lantai tinggi, area sempit, atau dengan akses sulit memerlukan penyesuaian — dan penyesuaiannya harus dicatat, bukan disimpan di kepala.
Melupakan hari tidak efektif. Hari hujan, hari libur, dan waktu mobilisasi mengurangi hari kerja tersedia. Membagi total OH dengan durasi kalender, bukan hari kerja efektif, menghasilkan jumlah tenaga yang selalu kurang.
Mengabaikan batas ruang kerja. Secara hitungan 30 tukang bisa menyelesaikan pekerjaan dalam seminggu; secara fisik 30 orang tidak muat di area itu dan justru saling menghambat. Produktivitas per orang turun ketika kepadatan naik.
Tidak menghitung ulang setelah jadwal berubah. Setiap pergeseran jadwal dan setiap addendum mengubah kebutuhan per periode. Rencana sumber daya yang tidak diperbarui menyesatkan lebih parah daripada tidak ada rencana sama sekali.
Hitung kebutuhan langsung dari BOQ dan jadwal
Perhitungannya sederhana per item. Yang berat adalah menjalankannya untuk ratusan item, menjumlahkannya per minggu, lalu mengulang semuanya setiap kali jadwal bergeser.
Modul Sumber Daya sikatin.id mengambil koefisien dari katalog AHSP resmi dan volume dari BOQ proyek yang sama, lalu menyebarkannya mengikuti jadwal. Hasilnya kebutuhan tenaga, material, dan alat per periode — yang ikut berubah sendiri ketika jadwalnya berubah.
Buka modul Sumber Daya — gratis, tanpa instalasi. Susun BOQ dan jadwal-nya lebih dulu.
Pertanyaan umum
Apa itu koefisien OH dalam AHSP?
OH adalah orang-hari: jumlah hari kerja seorang pekerja yang dibutuhkan untuk menyelesaikan satu satuan pekerjaan. Koefisien 0,275 OH tukang batu per m2 berarti satu m2 pekerjaan itu memerlukan 0,275 hari kerja seorang tukang batu.
Bagaimana menghitung jumlah tukang yang dibutuhkan?
Kalikan koefisien OH dengan volume pekerjaan untuk mendapat total OH, lalu bagi dengan durasi rencana dalam hari kerja efektif. Rumus ini juga bisa dibalik: jika jumlah tenaga terbatas, total OH dibagi jumlah tenaga menghasilkan durasi minimum yang realistis.
Apa itu resource leveling?
Meratakan kebutuhan tenaga kerja antar periode agar tidak ada puncak dan lembah yang tajam. Caranya menggeser pekerjaan yang punya float, memperpanjang durasi pekerjaan yang longgar, atau mengubah urutan per zona. Pekerjaan di lintasan kritis tidak boleh digeser tanpa menerima mundurnya tanggal selesai.
Kapan lebih baik menyewa alat daripada membeli?
Bandingkan rencana pemakaian dengan titik impas, yaitu harga beli dibagi selisih tarif sewa dan biaya operasi harian. Pemakaian jauh di bawah titik impas mengarah ke sewa. Selain biaya, pertimbangkan ketersediaan pada musim ramai — satu minggu menunggu alat bisa lebih mahal daripada selisih sewa setahun.
Kenapa koefisien AHSP perlu disesuaikan?
Karena koefisien adalah nilai rata-rata pada kondisi normal. Pekerjaan di lantai tinggi, area sempit, akses sulit, atau dengan tingkat kesulitan khusus memerlukan penyesuaian. Setiap penyesuaian sebaiknya dicatat beserta alasannya agar bisa diperiksa ulang.
Pelajari sumber volumenya di cara membuat BOQ, atau lihat bagaimana kebutuhan ini berubah menjadi biaya di menyusun RAB dengan AHSP.