Galian tanah
V = Panjang × Lebar × Kedalaman
Rumusnya jelas. Yang membuat hasilnya sering meleset adalah lebar galian bukan lebar pondasi. Pekerja butuh ruang untuk memasang bekisting dan bekerja di dasar galian, sehingga lebar galian biasanya lebih besar 20–40 cm di tiap sisi.
Untuk tanah yang tidak stabil, dinding galian juga tidak bisa tegak lurus — ia perlu dimiringkan agar tidak longsor. Galian bermiring lebih tepat dihitung dengan rumus trapesium seperti pada pondasi batu kali di bawah.
Contoh: pondasi menerus 24 m, lebar galian 0,6 m, kedalaman 0,8 m.
V = 24 × 0,6 × 0,8 = 11,52 m³
Untuk galian pondasi setempat, hitung per lubang lalu kalikan jumlahnya — jangan menjumlahkan panjang seolah menerus.
Urugan dan faktor pengembangan tanah
V = Panjang × Lebar × Tebal
Ini bagian yang paling sering salah di seluruh pekerjaan tanah, dan penyebabnya satu: tanah berubah volume ketika dipindahkan.
Tanah yang digali mengembang karena menjadi gembur (swell), lalu menyusut kembali ketika dipadatkan (shrinkage). Akibatnya tiga angka yang sering dianggap sama sebenarnya berbeda:
- Volume galian — diukur di tempat, sebelum digali
- Volume angkut — setelah gembur, lebih besar. Inilah yang menentukan jumlah rit truk.
- Volume urugan padat — setelah dipadatkan, lebih kecil dari volume gembur
Konsekuensi praktisnya: tanah yang dibutuhkan untuk mengurug selalu lebih banyak daripada volume lubang yang diisi. Mengambil volume urugan sama dengan volume ruang yang akan diisi menghasilkan kekurangan material yang baru ketahuan di lapangan.
Besarnya faktor bergantung jenis tanah dan tingkat pemadatan yang disyaratkan. Pakai nilai dari penyelidikan tanah dan spesifikasi proyek Anda, bukan angka umum — selisihnya nyata pada pekerjaan bervolume besar.
Pondasi batu kali
Penampangnya trapesium: lebih lebar di bawah, menyempit ke atas. Volumenya luas penampang dikali panjang.
V = Panjang × ((Lebar atas + Lebar bawah) ÷ 2) × Tinggi
Contoh: pondasi menerus 24 m, lebar atas 0,3 m, lebar bawah 0,6 m, tinggi 0,7 m.
V = 24 × ((0,3 + 0,6) ÷ 2) × 0,7 = 24 × 0,45 × 0,7 = 7,56 m³
Kebutuhan materialnya — batu belah, semen, pasir pasang — mengikuti koefisien AHSP untuk proporsi campuran yang dipakai. Perhatikan bahwa batu belah dijual dalam m³ gembur, sehingga jumlah beli lebih besar daripada volume pasangan padat.
Untuk pondasi dengan tinggi berbeda-beda mengikuti kontur tanah, hitung per segmen. Memakai tinggi rata-rata sepanjang bangunan menyembunyikan selisih yang bisa cukup besar.
Rabat beton dan lantai kerja
V = Panjang × Lebar × Tebal
Rabat dan lantai kerja umumnya tipis — 5 sampai 10 cm — sehingga kesalahan kecil pada tebal berdampak besar secara persentase. Tebal 5 cm yang menjadi 7 cm di lapangan menambah volume 40%.
Contoh: lantai kerja 4 × 3 m, tebal 0,05 m.
V = 4 × 3 × 0,05 = 0,6 m³
Dua hal yang sering terlewat: lantai kerja biasanya melebar 5–10 cm di luar garis pondasi agar bekisting punya dudukan, dan permukaan tanah yang tidak rata membuat tebal nyata lebih besar dari rencana. Untuk pekerjaan bervolume besar, tambahkan kelonggaran yang wajar dan catat asumsinya.
Luas penutup atap dan faktor kemiringan
Kesalahan paling umum pada pekerjaan atap: memakai luas denah bangunan sebagai luas atap. Atap miring selalu lebih luas daripada bidang datar yang ditutupinya, dan lebih luas lagi karena adanya overstek.
A = (Panjang + 2 × overstek) × (Lebar + 2 × overstek) × Faktor kemiringan
Faktor kemiringan bergantung sudut atap — semakin curam, semakin besar. Untuk kemiringan yang lazim pada atap genteng, faktor sekitar 1,15 sering dipakai sebagai perkiraan awal; untuk atap yang lebih curam nilainya lebih besar. Bila sudutnya diketahui, faktor itu dapat dihitung sebagai 1 ÷ cos(sudut).
Contoh: bangunan 8 × 6 m, overstek 0,8 m, faktor 1,15.
A = (8 + 1,6) × (6 + 1,6) × 1,15 = 9,6 × 7,6 × 1,15 ≈ 83,9 m²
Bandingkan dengan luas denah 48 m² — selisihnya 75%. Memakai luas denah untuk memesan genteng berarti kekurangan lebih dari sepertiga kebutuhan.
Untuk atap dengan bentuk tidak beraturan atau banyak jurai, hitung per bidang miring secara terpisah.
Waterproofing dan kusen
Waterproofing dihitung per luas bidang, ditambah bagian yang naik ke dinding:
A = Panjang × Lebar + Luas naikan dinding
Naikan dinding (biasanya 20–30 cm di sekeliling) hampir selalu dilupakan, padahal justru di pertemuan lantai dan dinding itulah kebocoran paling sering terjadi. Tambahkan juga tumpang tindih antar lembar bila memakai membran.
Kusen dihitung dalam meter panjang, bukan per unit:
L = Keliling kusen per unit × Jumlah unit
Contoh: kusen pintu dengan keliling 5 m, sebanyak 6 unit → 30 m'. Kelompokkan per tipe bukaan, karena keliling pintu dan jendela berbeda dan mencampurnya membuat kebutuhan profil salah.
Hitung semuanya sekaligus
Ketujuh pekerjaan di atas — galian, urugan, pondasi batu kali, rabat, atap, waterproofing, dan kusen — ada di Kalkulator Umum sikatin.id. Isi dimensinya, rumus dan kebutuhan materialnya keluar sekaligus beserta perkiraan biayanya.
Hasilnya bisa langsung dikirim ke BOQ proyek Anda, sehingga volume yang dihitung di sini tidak perlu diketik ulang — dan asumsinya tetap tersimpan bila suatu saat perlu diperiksa ulang.
Buka Kalkulator Umum — gratis, tanpa instalasi. Untuk pekerjaan struktur beton pakai Kalkulator Beton; untuk dinding dan finishing pakai Kalkulator Arsitektur.
Pertanyaan umum
Kenapa volume urugan lebih besar dari volume ruang yang diisi?
Karena tanah berubah volume saat dipindahkan. Tanah yang digali mengembang menjadi gembur, lalu menyusut ketika dipadatkan. Akibatnya tanah yang dibutuhkan untuk mengurug selalu lebih banyak daripada volume lubang yang diisi. Besar faktornya bergantung jenis tanah dan tingkat pemadatan yang disyaratkan.
Apakah lebar galian sama dengan lebar pondasi?
Tidak. Galian perlu lebih lebar agar ada ruang kerja untuk memasang bekisting dan bekerja di dasar galian, umumnya 20 sampai 40 cm lebih besar di tiap sisi. Pada tanah tidak stabil, dinding galian juga perlu dimiringkan sehingga volumenya dihitung dengan rumus trapesium.
Bagaimana menghitung luas penutup atap?
Luas atap bukan luas denah. Tambahkan overstek pada kedua sisi panjang dan lebar, lalu kalikan dengan faktor kemiringan. Bila sudut atap diketahui, faktor itu dapat dihitung sebagai 1 dibagi kosinus sudut. Selisih terhadap luas denah bisa mencapai puluhan persen.
Bagaimana menghitung volume pondasi batu kali?
Penampangnya trapesium, jadi volumenya adalah panjang dikali rata-rata lebar atas dan lebar bawah, dikali tinggi. Untuk pondasi yang tingginya mengikuti kontur tanah, hitung per segmen — memakai tinggi rata-rata seluruh bangunan menyembunyikan selisih yang cukup besar.
Apa yang sering terlupakan pada perhitungan waterproofing?
Bagian yang naik ke dinding di sekeliling bidang, biasanya 20 sampai 30 cm, serta tumpang tindih antar lembar bila memakai membran. Justru di pertemuan lantai dan dinding itulah kebocoran paling sering terjadi, sehingga bagian ini tidak boleh dilewatkan.
Untuk pekerjaan beton struktur, baca cara menghitung volume beton. Untuk pekerjaan dinding, baca kebutuhan bata merah per m².